Coaching

Coaching mempunyai definisi yang komprehensif. International Coach Federation (ICF) mendefinisikan Coaching sebagai komunikasi yang berbentuk kemitraan bersama klien untuk memaksimalkan potensi diri dengan cara mengeksplorasi pemikiran dan kreativitas (ICF, 2015; Wheeler & Donner, 2009). Coaching merupakan metode untuk membimbing, memfasilitasi, memberikan inspirasi menuju perubahan, perbaikan dan inovasi keperawatan (Stefancyk, Hancock & Meadows, 2013;  Medland & Stern, 2009 dalam Dossey, 2013). Coaching merupakan  kompetensi komunikasi yang sangat kuat dalam mendengarkan (Active Listening) dan bertanya (Questioning) sehingga menyebabkan seseorang lebih mengenal kemampuan dirinya. Coaching dapat menumbuhkan dan mengembangkan diri dengan membangun kesadaran serta mengeluarkan potensi terbaik dari seseorang (Natalie Ashdown dalam ICF,  2015).

Coaching adalah seni komunikasi untuk menemukan solusi. Menurut Flory (1965) dalam Agwu and Luke (2015), coaching dapat memfasilitasi kinerja, pembelajaran dan pengembangan dalam meningkatkan ketrampilan tertentu. Coaching mampu mendorong dan memberdayakan klien untuk membuat keputusan sendiri. Selain itu, klien juga mampu menemukan solusi optimal dari permasalahannya dengan panduan dan umpan balik konstruktif  (Agwu & Luke, 2015).

Coaching mempunyai beberapa tujuan penting. Tujuan utama dari coaching adalah membantu seseorang belajar mengontrol dan memodifikasi perilakunya. Menurut Donner & Wheeler (2009) dan Horton (2007), coaching sangat membantu proses mentoring, penilaian, perubahan perilaku, penentuan goal, konseling, psikotherapi, pengembangan diri dan organisasi. Coaching juga sangat membantu meningkatkan kemajuan dalam profesi pada bidang edukasi dan praktek, yang nantinya praktisi perawat dan tenaga kesehatan lainnya dapat bekerja semakin profesional dalam suatu tim untuk mencapai tujuan yaitu memberikan perawatan yang komprehensif (Donner & Wheeler, 2009).