Terapi Komplementer dan Alternatif

Pengobatan komplementer dan alternatif di seluruh dunia dan khususnya Indonesia saat ini mulai bisa kita lihat dan rasakan perkembangannya, bahkan saat sekarang pun banyak praktisi kesehatan konvensional yang sudah memulai menerima dan mengaplikasikan dengan bijaksana, dan dalam perkembangan keilmuan  yang semakin pesat ini tentunya kita pun mulai beranjak dalam mengambil  berbagai  keilmuan yang bermanfaat  sesuai tugas dan fungsi kita dalam kesehariannya.

Pengobatan komplementer dan alternatif  atau bahasa yang sehari hari kita dengar dengan  “Complementary Alternative Medicine” atau dapat kita sebut  “CAM” merupakan praktek pengobatan yang dilakukan oleh seorang praktisi yang telah tersertifikasi sesuai bidang keahliannya, meskipun tidak termasuk dalam pengobatan konvensional,  namun  tetap bisa saja berdampingan  dengan pengobatan konvensional, artinya kita pun bisa mempelajari dan mengaplikasikannya dengan tetap mematuhi kode etiknya masing masing.

Menurut Peplau (1952) fokus pada individu, perawat dan proses interaktif. Kolaborasi perawat dan klien dalam menghasilkan sebuah dorongan pertumbuhan melalui keefektivan hubungan interpersonal untuk mendapatkan kebutuhan klien. Sedangkan Leininger ( 1978 ) menyatakan bahwa keragaman pelayanan berdasarkan kultur dan universalitas, menyatakan bahwa kasih sayang merupakan inti dari keperawatan, dominan, karakteristik, dan ciri khas keperawatan. Menyediakan bagi klien pelayanan kesehatan spesifik secara kultural, memberikan asuhan keperawatan kepada klien sesuai kultur, nilai, dan kepercayaan.

Pengobatan komplementer dan alternative ( CAM ) pada awal mulanya banyak orang yang belum menerima cara cara tersebut, akan tetapi  saat tahun 1970-an seorang  pakar medis konvensional  yaitu Dr. Andrew  Weil, telah berani  menciptakan terobosan terobosan baru yaitu dengan mulai memperkenalkan kembali cara  pengobatan komplementer dan alternative, yang semula dijauhi dan dianggap tidak ilmiah karena tidak memiliki hasil penelitian yang mendukung, tetapi pada kenyataannya pengobatan ini secara empiris menunjukan efek keberhasilan dalam penyembuhan dan dapat pula diajarkan sebagai keilmuan kepada orang lain serta menggunakan tehnik alamiah yang telah digunakan pada masa pengobatan sebelum kebangkitan pengobatan konvensional. Setelah terobosan yang dilakukan Dr. Weil menjadikan perubahan drastis yang membuka mata para pakar, bahwa yang terpenting adalah hasil bukan caranya, hal ini  ternyata  dapat membentuk respon positif pada masyarakat, sehingga sebagian besar cara cara pengobatan ini mulai dilirik oleh para praktisi kesehatan yang progresif untuk dijadikan sebagai pelengkap ( Complementing ) dan sampai saat ini cara cara ini mulai meningkat  lagi menjadi bagian dari cara pengobatan ( Integrative ).

Menurut  Blackwelder ( 1998 ), saat sekarang  ini sudah mulai terbuka lebar hubungan kedua kutub pengobatan barat dan timur yang terintegrasi   menjadi Complementary and Alternative Medicine ( CAM ), hal ini memiliki beberapa alasan penting, diantaranya yaitu banyaknnya  masyarakat yang semakin tertarik pada pengobatan alternative, semakin banyaknya penelitian penelitian baru yang mengungkapkan potensi dan bukti penyembuhan dari pasien, semakin terjangkau nya biaya pengobatan oleh banyak kalangan anggota masyarakat, dan semakin diperlukannya komunikasi terapeutik antara pasien dengan petugas kesehatan yang selama ini masih dianggap kurang diperlukan  oleh sebagian kecil petugas kesehatan.

Dari beberapa alasan  yang telah disebutkan diatas tadi bukan berarti  pengobatan ini sebagai pengganti cara pengobatan konvensional yang menjadi acuan utama sekarang ini, melainkan sebagai pendamping dan pelengkap karena keduanya memiliki  keunggulan masing masing dan bila hal ini dipadukan tentunya bisa menjadi pengobatan yang sinergi dengan manfaat yang benar-benar memuaskan semua pihak.

Saat ini banyak sekali alternative pengobatan yang dapat dimanfaatkan dalam membantu penyembuhan penyakit tertentu ( Cherie Shehata, 1998 ). Namun hal ini sangatlah memerlukan rasa percaya dari pasien yang menggunakannya dengan harapan kesembuhan atau bisa meringankan penderitaan  seseorang, tetapi pada kenyataannya belum semua orang menerima dan memanfaatkan dengan sepenuhnya karena sebagian orang merasa takut ditertawakan atau di tolak oleh petugas kesehatan yang bertanggung jawab.

Pada perkembangan pengobatan komplementer dan alternative sekarang ini,  pemilihan tehnik pengobatan ini menjadi semakin jelas antara yang dapat dipertanggungjawabkan penggunaanya sebagai  pengobatan yang sudah diakui dan yang masih terdaftar saja, karena belum didukung dengan data penelitian yang akurat, artinya pengobatan komplementer adalah pengobatan tradisional yang telah diakui dan dapat dipakai sebagai pendamping pengobatan konvensional, misalnya  akupuntur dan hypnosis. Sedangkan pengobatan alternative adalah cara pengobatan yang tidak dapat dipakai sebagai pendamping pengobatan konvensional, tetapi harus menguasai keahliah khusus, misalnya;  dokter khusus naturopathy, sinshe, tabib, dll

Perkembangan komplementer terapi semakin pesat dikarenakan lebih dari 75 % klien mencari perawatan dari praktisi  pelayanan primer, jumlah klien mencari pengobatan non-konvensional sangat meningkat, persepsi bahwa pengobatan saat ini tidak memberikan kesembuhan dari berbagai penyakit, meningkatnya ketertarikan klien untuk menjadi lebih tahu tentang kesehatan dan kebutuhan berperan lebih aktif dalam pengobatannya, meningkatnya jumlah artikel penelitian “Alternatif Therapies in Health and Medicine” dan “Journal of Holistic Nursing”, daya tarik terhadap pendekatan holistik pelayanan kesehatan yang menggabungkan pikiran, tubuh, dan jiwa. (Rakel dan Faass, 2006).

NCCAM ( National Center for Complementary and Alternative Medicine ) yang menjadi sub bagian dari NIH ( National Institues of Health ), Bethesda, Maryland USA, mengelompokan pengobatan alternative dan komplementer ( CAM ) menjadi lima kategori diantaranya yaitu ; terapi alternative pengganti ( Alternativ Medical Sysytem ) dengan sisitem pengobatan lengkap ( Healing Systems ), Mind-Body Interventions, Biological-Based Therapy, Manipulative and Body-based Methods, dan  Energy Therapies. Sedangkan dalam PERMENKES RI NOMOR 1109/MENKES/PER/IX/2007, TENTANG PENYELENGGARAAN PENGOBATAN KOMPLEMENTER-ALTERNATIF DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN,  ruang lingkup pengobatan komplementer-alternatif yang berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik meliputi ;

  1. Intervensi Tubuh dan Pikiran ( Mind and Body Intervention ) ; Hipnotherapy, Meditasi, Penyembuhan Spiritual dan Doa, Yoga.
  2. System Pelayanan Medik Alternatif ( Alternative System of Medical Practice ) ; Akupunktur, Akupresur, Naturopaty, homeopaty, aromatherapy, ayurveda.
  3. Cara Penyembuhan Manual ( Manual Healing Methods ) ; Chiropractice, Healing Touch
  4. Pengobatan Farmakologi dan Biologi ( Pharmacologic and Biologic Treatments ) ; Herbal
  5. Diet dan Nutrisi untuk pencegahan dan pengobatan ( Diet and Nutrition for the prevention and treatment of disease ) ; Diit Makro Nutrient, Micro Nutrient
  6. Cara lain dalam diagnose dan pengobatan ( Unclassified Diagnostic and Treatment Methods ) ; Terapi Ozon, Hiperbarik, EECP ( Enchanced External Counter Pulsation )

 

The American Holistic Nurses Association mempertahankan Standar of Holistic Nursing Practice, menetapkan dan mendirikan Ruang Lingkup Praktek Holistik dan menggambarkan tingkat pelayanan yang diharapkan dari seorang perawat holistik (American Holistic Nurses Association, 2004). Di tetapkan 2 Tipe Terapi Alternatif dan Komplementer, yaitu Tipe Pertama adalah Terapi yang dapat diakses Perawat, dan Tipe Kedua adalah Terapi yang dapat diakses dengan tambahan Pelatihan. Terapi yang dapat diakses keperawatan menurut NCCAM : Terapi Relaksasi, Meditasi dan Pernafasan, Imajinasi. Sedangkan terapi yang dapat diakses perawat dengan pelatihan khusus menurut NCCAM  yaitu Bio Neuro Feedback, Touch Therapy, Chiropractic, Tradisional Chinese Medicine, Akupunktur, dan Terapi Herbal. (Potter & Perry, 2009).

Dalam UNDANG – UNDANG KEPERAWATAN NO. 38 TAHUN 2014, Pasal 30 ayat 2, mengenai tindakan keperawatan komplementer, menyatakan bahwa dalam menjalankan tugas sebagai pemberi asuhan keperawatan di bidang upaya kesehatan masyarakat, perawat berwenang melakukan penatalaksanaan keperawatan komplementer dan alternatif.